Terkejut juga sembari menunggu mie goreng itu terhidang, mencoba menghitung sudah sejak kapan kebiasaan makan mie di warung mie ini dimulai. Angka 11 tahun pun terhitung, ketidakyakinan akan kemampuan menghitung pun terjadi. Namun, ketidakyakinan itu ternyata tidak nyata karena angka 11 itu adalah perhitungan yang valid, ya...paling meleset 2 ato 3 bulanlah :-)
Kebiasaan makan mie di warung yang kebanyakan penjualnya dari Kuningan Jawa Barat ini menjadi sebuah fenomena experiental tersendiri. Pola saat terstimulasinya pun serupa. Di saat malam dan masih terjaga, keinginan ngemil timbul. Keluar mencari tempat makan yang terdekat, murah dan cukup mengenyangkan selain nasi tentu saja menjadi tujuan. Dan, disinilah warung mie tersebut berjaya. Karena, warung inilah yang paling memenuhi persyaratan dan buka 24jam penuh! Nilai tambahnya ini yang luar biasa. Kebiasaan makan ini membuat sebuah budaya bagi konsumennya, dan tidaklah heran banyak orang yang tetap menjalankan "budaya" ini dalam jangka waktu yang berkelanjutan.
Ada hal unik saat melakukan "aktivitas" makan mie tersebut. Komunikasi informal antar konsumen yang "dikomporin" si penjual menciptakan diskusi panjang dan cenderung menarik. Imbas keberlangsungan diskusi ini tentu saja jumlah gorengan, es teh, kopi, rokok, dan jajanan lainnya meningkat penjualannya. Karena kenyamanan yang dirasakan ini menciptakan experiental moment tersendiri, maka dorongan untuk mengulang aktivitas itupun menjadi kuat. Seperti efek bola salju, bisa dilihat budaya itupun terbentuk dan tentu saja loyalty terbentuk. So, marketer has to learn from this mechanism.
Jadi inget masa lalu ketika kuliah. Setuju tuh, emank namanya jualan si penjual harus pintar membawa suasana yg nyaman dan familiar, ane pernah usaha juga bang charly, dengan sikap familiar dan mengutamakan customer satisfaction otomatis penjualan pun meningkat...hihihihi...salah satu cara ya mengajak ngobrol, kasih saran dsb. Ga harus "customer adalah raja" saya kurang setuju tuh! Buktinya banyak penjual sekarang memperlakukan customer kayak pegawai dia ex : air asia or lion air beli tiket sekrg yg isi kita juga...hihihihihi...masih pake suruh ke ATM lagi untuk bayar!! Mendidik customer lebih penting daripada menyanjung2 dia,menciptakan experiance baru....salam n nice artikel walopun pendek, ditunggu artikel2 yg laen....
BalasHapusHehehe...kesetaraan itu yang lebih nikmat katanya, dan customer pun sekarang lebih suka diperlakukan setara bukan lebih tinggi atau bahkan lebih rendah :-) Sip...
BalasHapus