Jumat, 30 Juli 2010
Kereta api lebih cepat dari pesawat terbang!
Saya juga setuju dengan pendapat Pak Nukman tersebut, saya sendiri yang minimal 2 kali sebulan berpergian dengan pesawat terbang ini juga memiliki opini yang serupa. Saya sendiri lebih senang duduk di bagian dekat jendela dari pada tempat duduk lain, saya tidak keberatan untuk duduk di paling belakang sekalipun asal di dekat jendela.
Penerbangan kurang lebih 1 jam yang sering saya lakukan setidaknya memiliki 3 fase, yaitu: saat take off, saat terbang di atas ketinggian tertentu dan saat landing. Yang dilakukan mungkin bisa ditebak, saat take off dan landing saya akan melongok keluar jendela memperhatikan dan menikmati pemandangan daratan dari atas. Sampai saat ini saya masih menginginkan jadi fotografer foto udara seperti yang pernah saya lihat di tv waktu kecil. Menyenangkan sekali bisa mengabadikan pemandangan ciptaan Sang Khalik tersebut.
Saat di atas ketinggian tertentu dan terasa pesawat terbang "mendatar" perasaanpun menjadi ikut-ikutan "datar" hehehe... Hanya awan putih dan birunya langit yang terlihat, untuk pertama kali memang sangat menarik tetapi lama-kelamaan menjadi sangat monoton dan membosankan, apalagi pesawat terasa seperti "diam tidak bergerak." Pilihan saya ada dua, membaca majalah yang disediakan di pesawat atau tidur (sebenarnya hanya menutup mata dan mengawang-awang). Mengapa pilihan ngobrol dengan penumpang sebelah tidak dilakukan? Karena merekapun melakukan seperti yang saya lakukan yaitu membaca atau tidur. Pun saya juga enggan dan sering terperangkap untuk mencari topik pembicaraan jika memulai percakapan.
Membaca twit--istilah tulisan atau posting pada akun twitter--Pak Nukman seorang profesional bidang social media (yang ternyata adalah alumnus dari fakultas UGM yang sama dengan saya, walaupun beliau jauh lebih dulu) bahwa menurut pendapat seorang penumpang kereta api yang bernama Lala (berusia 6 tahun): "naik kereta api lebih cepat dari pada pesawat terbang, wuuut....wuuuut..." Pak Nukman pun berpendapat bahwa pesawat terbang memang tidak memberikan sensasi yang menyenangkan bagi anak-anak.
Saya juga setuju dengan pendapat Pak Nukman tersebut, saya sendiri yang minimal 2 kali sebulan berpergian dengan pesawat terbang ini juga memiliki opini yang serupa. Saya sendiri lebih senang duduk di bagian dekat jendela dari pada tempat duduk lain, saya tidak keberatan untuk duduk di paling belakang sekalipun asal di dekat jendela.
Penerbangan kurang lebih 1 jam yang sering saya lakukan setidaknya memiliki 3 fase, yaitu: saat take off, saat terbang di atas ketinggian tertentu dan saat landing. Yang dilakukan mungkin bisa ditebak, saat take off dan landing saya akan melongok keluar jendela memperhatikan dan menikmati pemandangan daratan dari atas. Sampai saat ini saya masih menginginkan jadi fotografer foto udara seperti yang pernah saya lihat di tv waktu kecil. Menyenangkan sekali bisa mengabadikan pemandangan ciptaan Sang Khalik tersebut.
Saat di atas ketinggian tertentu dan terasa pesawat terbang "mendatar" perasaanpun menjadi ikut-ikutan "datar" hehehe... Hanya awan putih dan birunya langit yang terlihat, untuk pertama kali memang sangat menarik tetapi lama-kelamaan menjadi sangat monoton dan membosankan, apalagi pesawat terasa seperti "diam tidak bergerak." Pilihan saya ada dua, membaca majalah yang disediakan di pesawat atau tidur (sebenarnya hanya menutup mata dan mengawang-awang). Mengapa pilihan ngobrol dengan penumpang sebelah tidak dilakukan? Karena merekapun melakukan seperti yang saya lakukan yaitu membaca atau tidur. Pun saya juga enggan dan sering terperangkap untuk mencari topik pembicaraan jika memulai percakapan.
Jadi, wajar Lala akan berpendapat bahwa naik pesawat lebih lama dari pada kereta, karena di kereta api kita akan merasa terus bergerak cepat karena lingkungan di luar sana "tertangkap" bergerak cepat oleh mata, sedangkan di pesawat terbang kita tidak dapat "menangkap" gerakan lingkungan sekitarnya, karena begitu cepat sehingga tidak terlihat oleh mata ditambah lagi dengan awan dan langit yang sangat besar sehingga cenderung sama dilihat dari jarak manapun.
Dengan "kekurangan" yang dimiliki oleh pesawat terbang ini seharusnya kereta api dapat mengeksplotasinya. Dan,bagaimana praktek maskapai pesawat terbang mengantisipasi masalah ini saya akan sampaikan di tulisan mendatang.
Kereta api lebih cepat dari pesawat terbang!
Saya juga setuju dengan pendapat Pak Nukman tersebut, saya sendiri yang minimal 2 kali sebulan berpergian dengan pesawat terbang ini juga memiliki opini yang serupa. Saya sendiri lebih senang duduk di bagian dekat jendela dari pada tempat duduk lain, saya tidak keberatan untuk duduk di paling belakang sekalipun asal di dekat jendela.
Penerbangan kurang lebih 1 jam yang sering saya lakukan setidaknya memiliki 3 fase, yaitu: saat take off, saat terbang di atas ketinggian tertentu dan saat landing. Yang dilakukan mungkin bisa ditebak, saat take off dan landing saya akan melongok keluar jendela memperhatikan dan menikmati pemandangan daratan dari atas. Sampai saat ini saya masih menginginkan jadi fotografer foto udara seperti yang pernah saya lihat di tv waktu kecil. Menyenangkan sekali bisa mengabadikan pemandangan ciptaan Sang Khalik tersebut.
Saat di atas ketinggian tertentu dan terasa pesawat terbang "mendatar" perasaanpun menjadi ikut-ikutan "datar" hehehe... Hanya awan putih dan birunya langit yang terlihat, untuk pertama kali memang sangat menarik tetapi lama-kelamaan menjadi sangat monoton dan membosankan, apalagi pesawat terasa seperti "diam tidak bergerak." Pilihan saya ada dua, membaca majalah yang disediakan di pesawat atau tidur (sebenarnya hanya menutup mata dan mengawang-awang). Mengapa pilihan ngobrol dengan penumpang sebelah tidak dilakukan? Karena merekapun melakukan seperti yang saya lakukan yaitu membaca atau tidur. Pun saya juga enggan dan sering terperangkap untuk mencari topik pembicaraan jika memulai percakapan.
Membaca twit--istilah tulisan atau posting pada akun twitter--Pak Nukman seorang profesional bidang social media (yang ternyata adalah alumnus dari fakultas UGM yang sama dengan saya, walaupun beliau jauh lebih dulu) bahwa menurut pendapat seorang penumpang kereta api yang bernama Lala (berusia 6 tahun): "naik kereta api lebih cepat dari pada pesawat terbang, wuuut....wuuuut..." Pak Nukman pun berpendapat bahwa pesawat terbang memang tidak memberikan sensasi yang menyenangkan bagi anak-anak.
Saya juga setuju dengan pendapat Pak Nukman tersebut, saya sendiri yang minimal 2 kali sebulan berpergian dengan pesawat terbang ini juga memiliki opini yang serupa. Saya sendiri lebih senang duduk di bagian dekat jendela dari pada tempat duduk lain, saya tidak keberatan untuk duduk di paling belakang sekalipun asal di dekat jendela.
Penerbangan kurang lebih 1 jam yang sering saya lakukan setidaknya memiliki 3 fase, yaitu: saat take off, saat terbang di atas ketinggian tertentu dan saat landing. Yang dilakukan mungkin bisa ditebak, saat take off dan landing saya akan melongok keluar jendela memperhatikan dan menikmati pemandangan daratan dari atas. Sampai saat ini saya masih menginginkan jadi fotografer foto udara seperti yang pernah saya lihat di tv waktu kecil. Menyenangkan sekali bisa mengabadikan pemandangan ciptaan Sang Khalik tersebut.
Saat di atas ketinggian tertentu dan terasa pesawat terbang "mendatar" perasaanpun menjadi ikut-ikutan "datar" hehehe... Hanya awan putih dan birunya langit yang terlihat, untuk pertama kali memang sangat menarik tetapi lama-kelamaan menjadi sangat monoton dan membosankan, apalagi pesawat terasa seperti "diam tidak bergerak." Pilihan saya ada dua, membaca majalah yang disediakan di pesawat atau tidur (sebenarnya hanya menutup mata dan mengawang-awang). Mengapa pilihan ngobrol dengan penumpang sebelah tidak dilakukan? Karena merekapun melakukan seperti yang saya lakukan yaitu membaca atau tidur. Pun saya juga enggan dan sering terperangkap untuk mencari topik pembicaraan jika memulai percakapan.
Jadi, wajar Lala akan berpendapat bahwa naik pesawat lebih lama dari pada kereta, karena di kereta api kita akan merasa terus bergerak cepat karena lingkungan di luar sana "tertangkap" bergerak cepat oleh mata, sedangkan di pesawat terbang kita tidak dapat "menangkap" gerakan lingkungan sekitarnya, karena begitu cepat sehingga tidak terlihat oleh mata ditambah lagi dengan awan dan langit yang sangat besar sehingga cenderung sama dilihat dari jarak manapun.
Dengan "kekurangan" yang dimiliki oleh pesawat terbang ini seharusnya kereta api dapat mengeksplotasinya. Dan,bagaimana praktek maskapai pesawat terbang mengantisipasi masalah ini saya akan sampaikan di tulisan mendatang.
Cara yang lebih menghibur (sekaligus beresiko)
Proses pemindahan semua tulisan itu cukup mudah, dengan bantuan mesin pencari google untuk mendapatkan panduan proses pemindahan secara otomatispun didapat. Dan, hasilnya cukup memenuhi yang diharapkan walaupun memang masih ada beberapa pengaturan manual yang harus dilakukan, untuk merapihkan dan membuatnya lebih terstruktur saja. Hasilnya bisa anda lihat di www.forbelovedfamily.com.
Beberapa tulisan di charlybercerita.blogspot.com pun mengalami nasib yang sama, walaupun proses pemindahanya dilakukan dengan metode copy-paste saja. Dari kedua metode "pemindahan" tulisan (otomatis dan manual) ini, ada sensasi yang berbeda tentu saja. Melakukan secara manual yaitu dengan metode sederhana copy-paste, tidaklah menarik seperti melakukan proses secara otomatis dengan beberapa klik itu. Setidaknya tampilan pada setiap proses itu berlangsung berbeda, bagi diri saya pribadi melakukan proses otomatis itu lebih menarik dan menghibur karena memiliki tampilan dan prosedur yang tidak biasa saya lakukan. Walaupun proses itu memiliki "resiko" kegagalan dan ketidaksesuaian dengan harapan awal lebih tinggi jika melakukan proses copy-paste yang "membosankan" itu. Hasil akhir pemindahannya memang identik, tetapi prosesnya yang berbeda.
Saya belajar satu hal bahwa kita akan cenderung taking risk saat proses yang sering kita lakukan sudah tidak lagi menghibur, kita akan cenderung melakukan dengan cara yang berbeda walaupun dengan hasil akhir yang sama persis. Saya meyakini ini semua ada di diri setiap orang, jika anda mencontohkan ada orang yang secara sangat konsisten dalam jangka panjang tidak pernah merubah metode kerjanya dan merasa nyaman. Saya fikir dia memang orang yang sangat bisa menikmati atau memang bertipe risk avoid person. Lagi-lagi saya juga menghipotesakan pada suatu saat dia akan melakukan minimal satu kali dengan cara yang berbeda, mengapa saya begitu yakin? Ya, saya hanya memperkirakan dan berpendapat bahwa jika orang konsisten melakukan hal yang sama dengan tanpa perubahan, setidaknya lingkungannya yang berubah. Indikatornya, jika ada kesalahan dan ketidaksamaan hasil dengan hasil kerjanya yang biasa didapat walaupun inputnya sama, maka ada yang berbeda saat melakukan prosesnya atau juga lingkungan yang berbeda dengan biasanya. Karena hasilnya yang tidak sesuai harapan dan "kapok" dengan hasilnya, mereka akan memilih melakukan secara konsisten tanpa mau lagi melakukan dengan improvisasi cara atau kondisi--baik disengaja atau tidak.
Jumat, 25 Juni 2010
Always New Experience
Saat sudah terbiasa dan tidak ada lagi trik atau keadaan baru lain yang tergambarkan di layar komputer, maka menurunlah kadar kesenangan yang dirasakan, tentu titik akhirnya adalah kebosanan dan menjadi hal yang biasa. Bisa ditebak, permainan itu akan mulai ditinggalkan dan mencari permainan baru yang akan menawarkan experiential moment menarik lainnya.
Saat layanan atas produk dan jasa kita sudah sering dan dengan gampangnya ditebak oleh konsumen kita, kebosanan tentu akan menghinggapi. Permintaan-permintaan yang diluar perkiraan dari konsumen akan bermunculan, saat permintaan yang tidak biasa itu lambat atau bahkan tidak dipenuhi. Dengan mudahnya konsumen tersebut akan meninggalkan dan beralih ke produk atau jasa pesaing.
Mengadopsi konsep menciptakan hal baru agar terus menciptakan experiential moment bagi konsumen menjadi sebuah tuntutan baru bagi pelaku bisnis. Kreatifitas dan inovasi memang menjadi kunci keberhasilan para pemasar, perwujudan perlakuan terhadap konsumen itu tentu saja berdasarkan masukan dari konsumen, praktek dari para pesaing dan sumber-sumber lain yang memang relevan.
Menjadikan kreatifitas dan inovasi sebagai semangat dan dasar pemikiran pribadi akan menciptakan sebuah hal baru yang diharapkan dapat memberikan pengalaman baru pula. Dan, ternyata menjadikan kratifitas dan inovasi sebagai way of life juga mendorong diri kita melakukan dengan cara yang berbeda yang tentu saja memberikan experiential moment tersendiri. So, enjoy the experience!
Jumat, 18 Juni 2010
Menikmati Lingkungan Sekitar
Yang menarik dari orang itu adalah kegiatan yang dia lakukan dan kontradiksinya dengan kampanye idealisme yang sedang dipamerkannya tersebut. Asap mengepul dari mulut dan hidungnya, tentu saja dengan kenikmatan personal yang gue rasa hanya dinikmati oleh dirinya sendiri. Zerocarboncity dengan perilaku merokok
Menyenangkan juga memperhatikan sekitar, ada banyak experiential
Jumat, 11 Juni 2010
The (Not) Better Experiental Airplane Services
Para penumpang punya 2 pilihan, tetap di koridor menjadi perokok--aktif atau pasif--di koridor atau berdesak-desakan di dalam ruang tunggu. Sebuah ketidaknyamanan bagi seorang yang tidak merokok. Para petugaspun hanya setengah hati melarang para perokok dan mengarahkan mereka ke ruang khusus merokok, dan tentu saja para perokok dengan tidak kalah setengah hati mereka menjawab mereka merokok karena pesawat mereka yang tertunda. Dan, bisa ditebak keadaan tidak berubah.
Pengalaman ini menanamkan sebuah persepsi yang cenderung negatif (setidaknya bagi gue pribadi). Penerbangan yang sering terlambat dan pelayanan bandara yang cenderung setengah hati, ditambah lagi dengan ketidakdisiplinan para konsumen penerbangan itu sendiri (walaupun tidak bisa dikatakan semua). Pengalaman ini menjadi persepsi umum masyarakat di saat mayoritas penumpang berpendapat seperti gue :-).
Citra industri penerbanganpun tidak lepas dari ketidakbaikan pelayanannya. Bagi para pemain di industri ini mulai memasukan elemen ini sebagai pembeda dandijadikan "senjata" untuk memenangkan hati para konsumennya agar menggunakan jasa mereka. Menurut gue para pemain di industri ini lebih baik memfokuskan pada fitur yang mendasar di industri ini yang diharapkan mayoritas penumpang, yaitu: ketepatan waktu estimasi keberangkatan dan pendaratan, kondisi nyaman saat menunggu dan tentu saja reward and punishment law is implemented wisely.
Selasa, 08 Juni 2010
Always Exciting!
Saat kebutuhan dasar tersebut mulai terpenuhi dan mulai menjadi biasa maka kecenderungannya adalah kegiatan itu menjadi sekedarnya saja, sekedar terpenuhi dan terkesan seperti komoditas biasa. Minum air di saat haus adalah hal biasa dan tidak begitu hebat. Tetapi, disaat kondisi lingkungan dirubah maka kegiatan itu tidak lagi biasa. Haus di tengah gurun pasir dan karena terbatasnya sumber air menyebabkan kita hanya boleh minum di saat benar-benar haus dan dengan jumlah tegukan terbatas, akan memberikan pengalaman yang berbeda untuk kegiatan minum tersebut.
Dari hal tersebut kita dapat melihat sebuah praktek pengkondisian yang terus digunakan orang. Keadaan tertentu diciptakan dan kelangkaan barang atau jasa digembar-gemborkan. Sehingga suatu pengalaman unik terus tercipta dan jurus inilah yang digunakan para pemasar untuk menjual "dagangannya".
Orang yang bolak-balik berlibur ke bali adalah contoh keberhasilan para pemasar jasa pariwisata di sana. Balinya tetap Bali yang sama namun mengapa orang rela kembali lagi ke Bali kalau hanya mendapatkan pengalaman yang persis sama? Ternyata mereka tetap merasa exciting karena cenderung mendapatkan pengalaman baru setiap mereka kesana. Pengalaman baru itu sendiri disebabkan ketidakmampuan pelancong tersebut dalam jangka waktu yang lama untuk ada di bali sehingga ada beberapa tempat dan layanan lain yang belum sempat dicicipi. Keberagaman layanan, tempat, makanan dan suasana di Bali itulah yang membuat ada pengalaman yang selalu baru bagi pelancong tersebut. So, we have to implement this strategy to our business, and thinking the formula itself has to be done strategically and creatively.
Senin, 07 Juni 2010
Entertaining Product: Another of Experiental Marketing
Hal yang menarik dari website fifa ini adalah situs berita yang entertaining atau menghibur. Sehingga, ada sesuatu yang berbeda dan unik dirasakan oleh pengakses website tersebut. Animasi yang atraktif dan tema website yang penuh warna, memasukan fitur dimana pengakses dapat berpendapat apa saja terkait dunia perbolaan hingga membuat avatar diri yang merepresentasikan diri kita diantara anggota terdaftar lainnya.
Game yang dipasang sebagai fitur website otomatis membuat pengunjung website menjadi betah berlama-lama. Suka beraksi untuk menggolkan bola ke gawang? Simulasi tendangan pinalti dengan penjaga gawang yang cukup sulit ditaklukan akan meningkatkan rasa penasaran pengunjung. Lebih suka menjadi manajer bola? Jangan khawatir, keinginan untuk membeli game football manager atau champion manager terbaru pun akan tertunda karena semua itu akan terpenuhi di website ini, dengan lawan dari penjuru dunia lagi.
Sebaga website informasi, kemampuannya membuat pengunjung merasakan hal yang berbeda membuat kunjungan menjadi rutin dan mendorong untuk menyebarkannya kepada orang lain, fasilitasnya pun tersedia. Tombol sharing via media sosial seperti facebook, twitter dan email sangat mempermudah dan mendorong ketersebaran informasi menjadi lebih luas. Tulisan ini pun salah satu bentuk penyebaran informasi dari seorang pengunjung yang merasa sebuah pengalaman unik. Dan, inilah yang ingin dicapai fifa. Repeating visits and consumer loyalty for evangelist will attract more money through advertisements. So, why we do not care about it, if we want more revenues from our poducts.
Selasa, 01 Juni 2010
Kebiasaan [Tribute to Mie Goreng]
Kebiasaan makan mie di warung yang kebanyakan penjualnya dari Kuningan Jawa Barat ini menjadi sebuah fenomena experiental tersendiri. Pola saat terstimulasinya pun serupa. Di saat malam dan masih terjaga, keinginan ngemil timbul. Keluar mencari tempat makan yang terdekat, murah dan cukup mengenyangkan selain nasi tentu saja menjadi tujuan. Dan, disinilah warung mie tersebut berjaya. Karena, warung inilah yang paling memenuhi persyaratan dan buka 24jam penuh! Nilai tambahnya ini yang luar biasa. Kebiasaan makan ini membuat sebuah budaya bagi konsumennya, dan tidaklah heran banyak orang yang tetap menjalankan "budaya" ini dalam jangka waktu yang berkelanjutan.
Ada hal unik saat melakukan "aktivitas" makan mie tersebut. Komunikasi informal antar konsumen yang "dikomporin" si penjual menciptakan diskusi panjang dan cenderung menarik. Imbas keberlangsungan diskusi ini tentu saja jumlah gorengan, es teh, kopi, rokok, dan jajanan lainnya meningkat penjualannya. Karena kenyamanan yang dirasakan ini menciptakan experiental moment tersendiri, maka dorongan untuk mengulang aktivitas itupun menjadi kuat. Seperti efek bola salju, bisa dilihat budaya itupun terbentuk dan tentu saja loyalty terbentuk. So, marketer has to learn from this mechanism.
Rabu, 19 Mei 2010
Tulisan Pertama: Menikmati Proses
Ini menjadi tulisan pertama gue di blog ini, tetapi ada hal yang berbeda di saat gue memulai mengisi blog ini. Tulisan ini dikirimkan melalui email bukan melalui fasilitas penulisan blog di situsnya. Hitung-hitung mulai belajar hal-hal baru yang kadangkala membuat suatu excitement tersendiri setelah bosan dengan cara yang biasa. Gue jadi teringat yang namanya experiential marketing, dimana orang sudah tidak lagi hanya sekedar mendapatkan produk/jasa saja tetapi mereka juga lebih cenderung ingin merasakan sensasi yang berbeda sewaktu mendapatkan produk/jasa yang diinginkannya itu. Contohnya, jika gue suka makan donat, tetapi gue tidak lagi hanya mau sekedar membeli donat dan memakannya dimana hanya memberikan efek “puas” karena donatnya enak. Tetapi, gue akan lebih suka lagi kalo di saat gue beli tuh donat, gue bisa liat proses pembuatan donatnya, bagaimana cara bikin bolongan di tengah-tengah donatnya (dan ini yang membuat gue terkesima, hehehe…soalnya asik bunder-bunderin adonan donatnya), ngasih topping manis di atasnya dan masih banyak lagi. Sehingga, selain gue dapat produknya, gue juga sekalian dapat suatu “pengalaman” yang menarik untuk proses pembuatan donat yang enak tersebut.
Sama dengan blog ini, gue sudah “cukup” biasa mengisi blog dengan mengetik di suatu halaman pada blog yang memang diperuntukkan menuliskan draft tulisan yang akan dimasukan ke blog, gue ingin sebuah sensasi dan pengalaman baru untuk menulis dengan cara yang berbeda, walaupun nantinya juga bakal sama hasilnya—dimana tulisan gue bakal muncul di blog tersebut. Proses mengirimkan tulisan via email yang akan otomatis masuk ke halaman blog adalah suatu pengalaman yang menarik dan tentu saja akan menciptakan efek atau sensasi yang berbeda dari biasanya.
Jika, anda dapat membaca tulisan ini di halaman blog, maka tulisan ini sukses di-post melalui email. Selamat membaca dan berkomentar J