Yang pertama memang selalu memberikan kesan yang tersendiri. Tegukan air pertama yang membasahi tenggorokan begitu nikmat dan berkesan menyegarkan dan tidak tergantikan dengan apapun. Pada tegukan kedua dan seterusnya, kenikmatan dan kesan kesegaran itu seakan-akan berkurang dan tidak lagi diawal. Penjelasan sederhananya adalah berkurangnya tingkat kebutuhan akan air minum tersebut, selain itu kita sangat yakin bahwa tegukan yang selanjutnya adalah air yang sama dan tidak lagi membuat kita exciting.
Saat kebutuhan dasar tersebut mulai terpenuhi dan mulai menjadi biasa maka kecenderungannya adalah kegiatan itu menjadi sekedarnya saja, sekedar terpenuhi dan terkesan seperti komoditas biasa. Minum air di saat haus adalah hal biasa dan tidak begitu hebat. Tetapi, disaat kondisi lingkungan dirubah maka kegiatan itu tidak lagi biasa. Haus di tengah gurun pasir dan karena terbatasnya sumber air menyebabkan kita hanya boleh minum di saat benar-benar haus dan dengan jumlah tegukan terbatas, akan memberikan pengalaman yang berbeda untuk kegiatan minum tersebut.
Dari hal tersebut kita dapat melihat sebuah praktek pengkondisian yang terus digunakan orang. Keadaan tertentu diciptakan dan kelangkaan barang atau jasa digembar-gemborkan. Sehingga suatu pengalaman unik terus tercipta dan jurus inilah yang digunakan para pemasar untuk menjual "dagangannya".
Orang yang bolak-balik berlibur ke bali adalah contoh keberhasilan para pemasar jasa pariwisata di sana. Balinya tetap Bali yang sama namun mengapa orang rela kembali lagi ke Bali kalau hanya mendapatkan pengalaman yang persis sama? Ternyata mereka tetap merasa exciting karena cenderung mendapatkan pengalaman baru setiap mereka kesana. Pengalaman baru itu sendiri disebabkan ketidakmampuan pelancong tersebut dalam jangka waktu yang lama untuk ada di bali sehingga ada beberapa tempat dan layanan lain yang belum sempat dicicipi. Keberagaman layanan, tempat, makanan dan suasana di Bali itulah yang membuat ada pengalaman yang selalu baru bagi pelancong tersebut. So, we have to implement this strategy to our business, and thinking the formula itself has to be done strategically and creatively.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar