Membaca twit--istilah tulisan atau posting pada akun twitter--Pak Nukman seorang profesional bidang social media (yang ternyata adalah alumnus dari fakultas teknik UGM yang sama dengan saya, walaupun beliau jauh lebih dulu lulus) bahwa menurut pendapat seorang penumpang kereta api yang bernama Lala (berusia 6 tahun): "naik kereta api lebih cepat dari pada pesawat terbang, wuuut....wuuuut..." Pak Nukman pun berpendapat bahwa pesawat terbang memang tidak memberikan sensasi yang menyenangkan bagi anak-anak.
Saya juga setuju dengan pendapat Pak Nukman tersebut, saya sendiri yang minimal 2 kali sebulan berpergian dengan pesawat terbang ini juga memiliki opini yang serupa. Saya sendiri lebih senang duduk di bagian dekat jendela dari pada tempat duduk lain, saya tidak keberatan untuk duduk di paling belakang sekalipun asal di dekat jendela.
Penerbangan kurang lebih 1 jam yang sering saya lakukan setidaknya memiliki 3 fase, yaitu: saat take off, saat terbang di atas ketinggian tertentu dan saat landing. Yang dilakukan mungkin bisa ditebak, saat take off dan landing saya akan melongok keluar jendela memperhatikan dan menikmati pemandangan daratan dari atas. Sampai saat ini saya masih menginginkan jadi fotografer foto udara seperti yang pernah saya lihat di tv waktu kecil. Menyenangkan sekali bisa mengabadikan pemandangan ciptaan Sang Khalik tersebut.
Saat di atas ketinggian tertentu dan terasa pesawat terbang "mendatar" perasaanpun menjadi ikut-ikutan "datar" hehehe... Hanya awan putih dan birunya langit yang terlihat, untuk pertama kali memang sangat menarik tetapi lama-kelamaan menjadi sangat monoton dan membosankan, apalagi pesawat terasa seperti "diam tidak bergerak." Pilihan saya ada dua, membaca majalah yang disediakan di pesawat atau tidur (sebenarnya hanya menutup mata dan mengawang-awang). Mengapa pilihan ngobrol dengan penumpang sebelah tidak dilakukan? Karena merekapun melakukan seperti yang saya lakukan yaitu membaca atau tidur. Pun saya juga enggan dan sering terperangkap untuk mencari topik pembicaraan jika memulai percakapan.
Membaca twit--istilah tulisan atau posting pada akun twitter--Pak Nukman seorang profesional bidang social media (yang ternyata adalah alumnus dari fakultas UGM yang sama dengan saya, walaupun beliau jauh lebih dulu) bahwa menurut pendapat seorang penumpang kereta api yang bernama Lala (berusia 6 tahun): "naik kereta api lebih cepat dari pada pesawat terbang, wuuut....wuuuut..." Pak Nukman pun berpendapat bahwa pesawat terbang memang tidak memberikan sensasi yang menyenangkan bagi anak-anak.
Saya juga setuju dengan pendapat Pak Nukman tersebut, saya sendiri yang minimal 2 kali sebulan berpergian dengan pesawat terbang ini juga memiliki opini yang serupa. Saya sendiri lebih senang duduk di bagian dekat jendela dari pada tempat duduk lain, saya tidak keberatan untuk duduk di paling belakang sekalipun asal di dekat jendela.
Penerbangan kurang lebih 1 jam yang sering saya lakukan setidaknya memiliki 3 fase, yaitu: saat take off, saat terbang di atas ketinggian tertentu dan saat landing. Yang dilakukan mungkin bisa ditebak, saat take off dan landing saya akan melongok keluar jendela memperhatikan dan menikmati pemandangan daratan dari atas. Sampai saat ini saya masih menginginkan jadi fotografer foto udara seperti yang pernah saya lihat di tv waktu kecil. Menyenangkan sekali bisa mengabadikan pemandangan ciptaan Sang Khalik tersebut.
Saat di atas ketinggian tertentu dan terasa pesawat terbang "mendatar" perasaanpun menjadi ikut-ikutan "datar" hehehe... Hanya awan putih dan birunya langit yang terlihat, untuk pertama kali memang sangat menarik tetapi lama-kelamaan menjadi sangat monoton dan membosankan, apalagi pesawat terasa seperti "diam tidak bergerak." Pilihan saya ada dua, membaca majalah yang disediakan di pesawat atau tidur (sebenarnya hanya menutup mata dan mengawang-awang). Mengapa pilihan ngobrol dengan penumpang sebelah tidak dilakukan? Karena merekapun melakukan seperti yang saya lakukan yaitu membaca atau tidur. Pun saya juga enggan dan sering terperangkap untuk mencari topik pembicaraan jika memulai percakapan.
Jadi, wajar Lala akan berpendapat bahwa naik pesawat lebih lama dari pada kereta, karena di kereta api kita akan merasa terus bergerak cepat karena lingkungan di luar sana "tertangkap" bergerak cepat oleh mata, sedangkan di pesawat terbang kita tidak dapat "menangkap" gerakan lingkungan sekitarnya, karena begitu cepat sehingga tidak terlihat oleh mata ditambah lagi dengan awan dan langit yang sangat besar sehingga cenderung sama dilihat dari jarak manapun.
Dengan "kekurangan" yang dimiliki oleh pesawat terbang ini seharusnya kereta api dapat mengeksplotasinya. Dan,bagaimana praktek maskapai pesawat terbang mengantisipasi masalah ini saya akan sampaikan di tulisan mendatang.
Cerita Charly
Cerita dengan relativitas rangkaian kata-kata dari sisi seorang Charly Buchari
Jumat, 30 Juli 2010
Kereta api lebih cepat dari pesawat terbang!
Membaca twit--istilah tulisan atau posting pada akun twitter--Pak Nukman seorang profesional bidang social media (yang ternyata adalah alumnus dari fakultas teknik UGM yang sama dengan saya, walaupun beliau jauh lebih dulu lulus) bahwa menurut pendapat seorang penumpang kereta api yang bernama Lala (berusia 6 tahun): "naik kereta api lebih cepat dari pada pesawat terbang, wuuut....wuuuut..." Pak Nukman pun berpendapat bahwa pesawat terbang memang tidak memberikan sensasi yang menyenangkan bagi anak-anak.
Saya juga setuju dengan pendapat Pak Nukman tersebut, saya sendiri yang minimal 2 kali sebulan berpergian dengan pesawat terbang ini juga memiliki opini yang serupa. Saya sendiri lebih senang duduk di bagian dekat jendela dari pada tempat duduk lain, saya tidak keberatan untuk duduk di paling belakang sekalipun asal di dekat jendela.
Penerbangan kurang lebih 1 jam yang sering saya lakukan setidaknya memiliki 3 fase, yaitu: saat take off, saat terbang di atas ketinggian tertentu dan saat landing. Yang dilakukan mungkin bisa ditebak, saat take off dan landing saya akan melongok keluar jendela memperhatikan dan menikmati pemandangan daratan dari atas. Sampai saat ini saya masih menginginkan jadi fotografer foto udara seperti yang pernah saya lihat di tv waktu kecil. Menyenangkan sekali bisa mengabadikan pemandangan ciptaan Sang Khalik tersebut.
Saat di atas ketinggian tertentu dan terasa pesawat terbang "mendatar" perasaanpun menjadi ikut-ikutan "datar" hehehe... Hanya awan putih dan birunya langit yang terlihat, untuk pertama kali memang sangat menarik tetapi lama-kelamaan menjadi sangat monoton dan membosankan, apalagi pesawat terasa seperti "diam tidak bergerak." Pilihan saya ada dua, membaca majalah yang disediakan di pesawat atau tidur (sebenarnya hanya menutup mata dan mengawang-awang). Mengapa pilihan ngobrol dengan penumpang sebelah tidak dilakukan? Karena merekapun melakukan seperti yang saya lakukan yaitu membaca atau tidur. Pun saya juga enggan dan sering terperangkap untuk mencari topik pembicaraan jika memulai percakapan.
Membaca twit--istilah tulisan atau posting pada akun twitter--Pak Nukman seorang profesional bidang social media (yang ternyata adalah alumnus dari fakultas UGM yang sama dengan saya, walaupun beliau jauh lebih dulu) bahwa menurut pendapat seorang penumpang kereta api yang bernama Lala (berusia 6 tahun): "naik kereta api lebih cepat dari pada pesawat terbang, wuuut....wuuuut..." Pak Nukman pun berpendapat bahwa pesawat terbang memang tidak memberikan sensasi yang menyenangkan bagi anak-anak.
Saya juga setuju dengan pendapat Pak Nukman tersebut, saya sendiri yang minimal 2 kali sebulan berpergian dengan pesawat terbang ini juga memiliki opini yang serupa. Saya sendiri lebih senang duduk di bagian dekat jendela dari pada tempat duduk lain, saya tidak keberatan untuk duduk di paling belakang sekalipun asal di dekat jendela.
Penerbangan kurang lebih 1 jam yang sering saya lakukan setidaknya memiliki 3 fase, yaitu: saat take off, saat terbang di atas ketinggian tertentu dan saat landing. Yang dilakukan mungkin bisa ditebak, saat take off dan landing saya akan melongok keluar jendela memperhatikan dan menikmati pemandangan daratan dari atas. Sampai saat ini saya masih menginginkan jadi fotografer foto udara seperti yang pernah saya lihat di tv waktu kecil. Menyenangkan sekali bisa mengabadikan pemandangan ciptaan Sang Khalik tersebut.
Saat di atas ketinggian tertentu dan terasa pesawat terbang "mendatar" perasaanpun menjadi ikut-ikutan "datar" hehehe... Hanya awan putih dan birunya langit yang terlihat, untuk pertama kali memang sangat menarik tetapi lama-kelamaan menjadi sangat monoton dan membosankan, apalagi pesawat terasa seperti "diam tidak bergerak." Pilihan saya ada dua, membaca majalah yang disediakan di pesawat atau tidur (sebenarnya hanya menutup mata dan mengawang-awang). Mengapa pilihan ngobrol dengan penumpang sebelah tidak dilakukan? Karena merekapun melakukan seperti yang saya lakukan yaitu membaca atau tidur. Pun saya juga enggan dan sering terperangkap untuk mencari topik pembicaraan jika memulai percakapan.
Jadi, wajar Lala akan berpendapat bahwa naik pesawat lebih lama dari pada kereta, karena di kereta api kita akan merasa terus bergerak cepat karena lingkungan di luar sana "tertangkap" bergerak cepat oleh mata, sedangkan di pesawat terbang kita tidak dapat "menangkap" gerakan lingkungan sekitarnya, karena begitu cepat sehingga tidak terlihat oleh mata ditambah lagi dengan awan dan langit yang sangat besar sehingga cenderung sama dilihat dari jarak manapun.
Dengan "kekurangan" yang dimiliki oleh pesawat terbang ini seharusnya kereta api dapat mengeksplotasinya. Dan,bagaimana praktek maskapai pesawat terbang mengantisipasi masalah ini saya akan sampaikan di tulisan mendatang.
Saya juga setuju dengan pendapat Pak Nukman tersebut, saya sendiri yang minimal 2 kali sebulan berpergian dengan pesawat terbang ini juga memiliki opini yang serupa. Saya sendiri lebih senang duduk di bagian dekat jendela dari pada tempat duduk lain, saya tidak keberatan untuk duduk di paling belakang sekalipun asal di dekat jendela.
Penerbangan kurang lebih 1 jam yang sering saya lakukan setidaknya memiliki 3 fase, yaitu: saat take off, saat terbang di atas ketinggian tertentu dan saat landing. Yang dilakukan mungkin bisa ditebak, saat take off dan landing saya akan melongok keluar jendela memperhatikan dan menikmati pemandangan daratan dari atas. Sampai saat ini saya masih menginginkan jadi fotografer foto udara seperti yang pernah saya lihat di tv waktu kecil. Menyenangkan sekali bisa mengabadikan pemandangan ciptaan Sang Khalik tersebut.
Saat di atas ketinggian tertentu dan terasa pesawat terbang "mendatar" perasaanpun menjadi ikut-ikutan "datar" hehehe... Hanya awan putih dan birunya langit yang terlihat, untuk pertama kali memang sangat menarik tetapi lama-kelamaan menjadi sangat monoton dan membosankan, apalagi pesawat terasa seperti "diam tidak bergerak." Pilihan saya ada dua, membaca majalah yang disediakan di pesawat atau tidur (sebenarnya hanya menutup mata dan mengawang-awang). Mengapa pilihan ngobrol dengan penumpang sebelah tidak dilakukan? Karena merekapun melakukan seperti yang saya lakukan yaitu membaca atau tidur. Pun saya juga enggan dan sering terperangkap untuk mencari topik pembicaraan jika memulai percakapan.
Membaca twit--istilah tulisan atau posting pada akun twitter--Pak Nukman seorang profesional bidang social media (yang ternyata adalah alumnus dari fakultas UGM yang sama dengan saya, walaupun beliau jauh lebih dulu) bahwa menurut pendapat seorang penumpang kereta api yang bernama Lala (berusia 6 tahun): "naik kereta api lebih cepat dari pada pesawat terbang, wuuut....wuuuut..." Pak Nukman pun berpendapat bahwa pesawat terbang memang tidak memberikan sensasi yang menyenangkan bagi anak-anak.
Saya juga setuju dengan pendapat Pak Nukman tersebut, saya sendiri yang minimal 2 kali sebulan berpergian dengan pesawat terbang ini juga memiliki opini yang serupa. Saya sendiri lebih senang duduk di bagian dekat jendela dari pada tempat duduk lain, saya tidak keberatan untuk duduk di paling belakang sekalipun asal di dekat jendela.
Penerbangan kurang lebih 1 jam yang sering saya lakukan setidaknya memiliki 3 fase, yaitu: saat take off, saat terbang di atas ketinggian tertentu dan saat landing. Yang dilakukan mungkin bisa ditebak, saat take off dan landing saya akan melongok keluar jendela memperhatikan dan menikmati pemandangan daratan dari atas. Sampai saat ini saya masih menginginkan jadi fotografer foto udara seperti yang pernah saya lihat di tv waktu kecil. Menyenangkan sekali bisa mengabadikan pemandangan ciptaan Sang Khalik tersebut.
Saat di atas ketinggian tertentu dan terasa pesawat terbang "mendatar" perasaanpun menjadi ikut-ikutan "datar" hehehe... Hanya awan putih dan birunya langit yang terlihat, untuk pertama kali memang sangat menarik tetapi lama-kelamaan menjadi sangat monoton dan membosankan, apalagi pesawat terasa seperti "diam tidak bergerak." Pilihan saya ada dua, membaca majalah yang disediakan di pesawat atau tidur (sebenarnya hanya menutup mata dan mengawang-awang). Mengapa pilihan ngobrol dengan penumpang sebelah tidak dilakukan? Karena merekapun melakukan seperti yang saya lakukan yaitu membaca atau tidur. Pun saya juga enggan dan sering terperangkap untuk mencari topik pembicaraan jika memulai percakapan.
Jadi, wajar Lala akan berpendapat bahwa naik pesawat lebih lama dari pada kereta, karena di kereta api kita akan merasa terus bergerak cepat karena lingkungan di luar sana "tertangkap" bergerak cepat oleh mata, sedangkan di pesawat terbang kita tidak dapat "menangkap" gerakan lingkungan sekitarnya, karena begitu cepat sehingga tidak terlihat oleh mata ditambah lagi dengan awan dan langit yang sangat besar sehingga cenderung sama dilihat dari jarak manapun.
Dengan "kekurangan" yang dimiliki oleh pesawat terbang ini seharusnya kereta api dapat mengeksplotasinya. Dan,bagaimana praktek maskapai pesawat terbang mengantisipasi masalah ini saya akan sampaikan di tulisan mendatang.
Langganan:
Postingan (Atom)